Peranan Hati Nurani dalam Kebebasan Manusia Menentukan Pilihan Hidup

Gilbert A EP K Hutapea

1.      Pengantar

      Setiap manusia memiliki kehendak bebasa dalam setiap pilihan hidupnya. Setiap penilaian, keputusan dan Tindakan yang diambil berasal dari proses pemilahan dan pertimbangan yang kemudian menciptakan keputusan akhir. Keputusan yang telah ditetapkan oleh manusia merupakan bukti nyata bahwa manusia memiliki pikiran yang selalu mencari kebenaran-kebenaran dan kepastian. Dalam menentukan dan mengambil Tindakan, Selain dari akal pikran, manusia juga memerlukan peranan hati Nurani dalam pengambilan keputusan. Hati Nurani bertujuan untuk mendorong manusia dengan sadar mengambil dan menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya.

       Hati nurani menjadi alat utama dalam diri manusia yang memampukan manusia untuk memutuskan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Pilihan-pilihan hidup manusia itu sendiri dipengaruhi oleh berbagai macam factor, yaitu factor internal dan eksternal. Secara umum, pengambilan keputusan atau pilihan dalam hidup manusia mengacu pada realita kehidupan yang tengah ia jalani dan tentunya semua itu demi kepentingan hidup yang sedang atau bahkan yang akan ia jalani. Setiap keputusan atau pilihan yang diambil oleh manusia sifatnya bebas, yang artinya, dengan kehendak bebas, manusia juga menentukan setiap pilihan hidupnya secara bebas. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengkaji tentang bagaimana hati Nurani mengambil peranan dalam menentukan pilihan hidup manusia secara bebas.

2.       Isi

2.1.   Hati Nurani

Hati Nurani memiliki sejumlah arti menurut beberapa sumber didalam lingkup Gereja Katolik. Dalam dokumen Konsili Vatikan II dikatakan bahwa hati Nurani adalah Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya (GS no. 16). Ini berarti hati Nurani merupakan titik terdalam hati manusia Bersama dengan Allah, dimana Allah senantiasa menyapa manusia dalam hatinya yang terdalam itu.[1]

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1778 dikatakan bahwa hati nurani ialah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah suatu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan atau sudah laksanakan, bersifat baik atau buruk secara moral.[2] Dalam hal ini, hati nurani berada pada tahap di mana akal budi manusia mengambil peran di dalam tindak konkret manusia yang berdampak secara moral baik dalam perbuatan yang bersifat baik maupun buruk. Hati Nurani manusia yang mengakui secara praktis dan konkrit kebenaran mengenai yang baik secara moral, yang dinyatakan dalam hukum akal budi disebut bijaksana (KGK no. 1780). Sedangkan manusia yang dengan sadar melawan hati nuraninya demi memenuhi kecenderungan keinginan dan nafsunya membuat manusia itu tersesat dan tidak tahu akan hati nuraninya sendiri (KGK no. 1790).

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hati nurani itu menjadi suatu kemampuan kognitif (secara sadar) manusia untuk mampu membedakan hal yang baik dengan yang buruk dan dengan kemampuan itu manusia dapat dan diharuskan menentukan pilihan-pilihan yang baik serta menghindari yang buruk.[3]

2.2.   Kebebasan

Kebebasan merupakan dasar dari hidup moral manusia. Tanpa adanya kebebasan, manusia tidak dapat disebut makhluk yang bermoral. Seseorang dapat dikatakan hidup dengan bebas ketika ia dapat melakukan apa saja yang ia yang inginkan tanpa terikat atau terbatas oleh sesuatu baik dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Kebebasan ini akan berpengaruh pada moralitas seseorang dalam berbagai bidang kehidupannya. Kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan yang lepas, namun lebih kepada kebebasan yang dapat dikendalikan dan dipertanggungjawabkan. Dalam kehidupan bersama, terdapat beberapa ketentuan bagaimana mengaplikasikan kebebasan yang kemudia menjadi sebuah konsep hidup. [4]   

Kebebasan memiliki beberapa aspek, seperti kebebasan untuk menentukan diri dan kebebasan untuk memilih. Sebagai individu yang bebas, manusia juga memiliki keterbatasan dalam mewujudkan dirinya secara penuh. Manusia selalu berusaha mengaktualisasikan kebebasan dalam keterbatasan. Ia selalu mencari dan menentukan bagaimana dan kemana dirinya hendak melangkah. Selain itu, ia akan menjumpai sebuah persimpangan, dimana ia dihadapkan dengan beberapa factor yang membatasi pilihannya dan harus memilih hidup seperti apa yang hendak ia jalani. [5] Kebebasan dalam konteks moral bukan hanya sekedar bebas untuk melakukan apa saja, tetapi lebih kepada kebebasan untuk memilih apa yang dapat dilakukan sebagai Tindakan ekspresi diri.

2.3.   Peranan Hati Nurani dalam Menentukan Pilihan

Pada hakikatnya, hati nurani sejatinya sudah sampai pada kebenaran dan kepastian. Di dalam mengambil suatu keputusan, hati nurani menjadi benar jika keputusannya itu sesuai dengan kebenaran dan norma moral objektif. Sementara sebaliknya hati nurani menjadi salah apabila manusia secara sadar melawan hati nuraninya. Selain itu, dalam menentukan sebuah pilihan, sangat penting adanya kebijaksanaan dalam membuat keputusan. Hati nurani haruslah yakin atau tidak ragu-ragu dalam meyakini suatu nilai dan kebenaran obyektif sebagai syarat utama dalam mengambil keputusan yang tepat. [6]

Hati Nurani merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Oleh karena itu, dalam pengambilan keputusan, seseorang haruslah mendengarkan suara Allah didalam hati nuraninya. Suara Allah merupakan kebenaran dan kepastian, maka setiap keputusan yang diambil berdasarkan dari suara Allah sudahlah pasti benar dan tepat. Relasi yang baik dengan Allah dan sesama yang dibangun dari dialog personal dan mendalam, mendukung terciptanya pengambilan keputusan yang benar oleh hati nurani. Kehidupan moral seseorang menandakan adanya kebebasan dalam diri orang tersebut. Kebebasan dalam memilih menjadi bukti bahwa hati nurani memiliki peran dalam proses menentukan sebuah keputusan.

3.      Penutup

Jika ada pernyataan yang mengatakan bahwa manusia kerap melakukan sesuatu dengan tidak sadar, itu merupakan suatu kekeliruan. Tindakan manusia di dalam kehidupannya sehari-hari secara keseluruhan sebenarnya adalah hasil pengambilan keputusan yang dilakukan secara sadar. Cara pengambilan secara sadar melalui akal budi dan bantuan hati nurani itu menentukan apakah keputusan itu adalah tepat dalam arti ada kebenaran dan kepastian di dalamnya. Tindakan buruk yang dilakukan oleh manusia pun pada dasarnya juga dilakukan secara sadar. Mengikuti atau melawan hati nuranilah yang menyebabkan seseorang melakukan Tindakan baik ataupun buruk. Itu semua dilakukan atas otoritas pribadi manusia terhadap dirinya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

McCormik, A Ricard, Notes on Moral Theology. America: University Press of America, 1981.

Nadeak, Largus. Topik-topik Moral Fundamental: Memahami Tindakan Manusiawi dengan Rasio dan Iman. Medan: Bina Media Perintis, 2015.

Van Paassen, Yan. Suara Hati: Kompas Kebenaran. Jakarta: OBOR, 2002.



[1] Yan van Paassen, Suara Hati: Kompas Kebenaran (Jakarta: OBOR, 2002), hlm.2.         

[2] Yan van Paassen, Suara Hati..., hlm. 2.

[3] Largus Nadeak, Topik-Topik Teologi Moral Fundamental: Memahami Tindakan Manusiawi dengan Rasio dan Iman (Medan: Bina Media Perintis, 2000), hlm. 85.

[4] Largus Nadeak, Topik-Topik Teologi ..., hlm. 74.

[5] Ricard A. McCormik, Notes on Moral Theology…, hlm. 384. 

[6] Largus Nadeak, Topik-Topik Teologi ..., hlm. 100-101.

 

 

 

Komentar